Jumat, 10 Juni 2011





Job at home


If you are looking for a succeed work at home or if you dream about getting income live; yes, finally, you found it!



Contain financial independence


No computer knowledges necessary. You can be completely new to handle our application - you don't need ANY knowledge. This is actually easy.


You can stay at room and work at your free time. Even whether you don't have computer you can do this work in Internet cafe or on Internet cell phone.



How it works?


We create a online-store for you with ready to operate e-commerce solution. Your job is extremely easy; you have to post information regarding your internet-store to the Online sites.
We will provide you with very simple step-by-step instruction how to do this. The typical instruction requests you to open a internet webpage and fill in a form with material regarding your web-store and products.


You will be paid from US $20.00 to US 180.00 for each sale which is comes via your online-shop.


There is no limitation for your revenue. No matter where you live your commissions are 100% guaranteed.



Sign up Now...

Sign up now to get economic freedom. All you need is the simple: sign up now and haveown internet company!

Rabu, 01 Juni 2011

NAFSU BU SON







Cerita Panas.Sebenarnya saya malu untuk menuliskan cerita ini, tetapi karena sudah banyak yang menggunakan media ini untuk menuliskan cerita-cerita tentang seks walaupun saya sendiri tidak yakin apakah itu semuanya fakta atau fiksi belaka. Memang cerita yang saya tulis ini cukup memalukan tetapi di samping itu ada kejadian yang lucu dan memang sama sekali belum pernah saya alami.
Awal mula dari cerita ini adalah ketika saya baru saja tinggal di sebuah daerah perumahan yang relatif baru di daerah pinggiran kota-maaf, nama daerah tersebut tidak saya sebutkan mengingat untuk menjaga nama baik dan harga diri keluarga terutama suami dan kedua anak saya. Saya tinggal di situ baru sekitar 6 bulanan.
Karena daerah perumahan tersebut masih baru maka jumlah keluarga yang menempati rumah di situ masih relatif sedikit tetapi khusus untuk blok daerah rumah saya sudah lumayan banyak dan ramai. Rata-rata keluarga kecil seperti keluarga saya juga yaitu yang sudah masuk generasi Keluarga Berencana, rata-rata hanya mempunyai dua anak tetapi ada juga yang hanya satu anak saja.
Sudah seperti biasanya bila kita menempati daerah perumahan baru, saya dengan sengaja berusaha untuk banyak bergaul dengan para tetangga bahkan juga dengan tetangga-tetangga di blok yang lain. Dari hasil bergaul tersebut timbul kesepakatan di antara ibu-ibu di blok daerah rumahku untuk mengadakan arisan sekali dalam sebulan dan diadakan bergiliran di setiap rumah pesertanya.
Suatu ketika sedang berlangsung acara arisan tersebut di sebuah rumah yang berada di deretan depan rumahku, pemilik rumah tersebut biasa dipanggil Bu Soni (bukan nama sebenarnya) dan sudah lebih dulu satu tahun tinggal di daerah perumahan ini daripada saya. Bu Soni bisa dibilang ramah, banyak ngomongnya dan senang bercanda dan sampai saat tulisan ini aku buat dia baru mempunyai satu anak, perempuan, berusia 8 tahun walaupun usia rumah tangganya sudah 10 tahun sedangkan aku sudah 30 tahun. Aku menikah ketika masih berusia 22 tahun. Suaminya bekerja di sebuah perusahaan swasta dan kehidupannya juga bisa dibilang kecukupan.
Setelah acara arisan selesai saya masih tetap asyik ngobrol dengan Bu Soni karena tertarik dengan keramahan dan banyak omongnya itu sekalipun ibu-ibu yang lain sudah pulang semua. Dia kemudian bertanya tentang keluargaku, “Jeng Mar. Putra-putranya itu sudah umur berapa, sih, kok sudah dewasa-dewasa, ya?” (Jeng Mar adalah nama panggilanku tetapi bukan sebenarnya) tanya Bu Soni kepadaku.
“Kalau yang pertama 18 tahun dan yang paling ragil itu 14 tahun. Cuma yaitu Bu, nakalnya wah, wah, waa.. Aah benar-benar, deh. Saya, tuh, suka capek marahinnya.”
“Lho, ya, namanya juga anak laki-laki. Ya, biasalah, Jeng.”
“Lebih nikmat situ, ya. Anak cuma satu dan perempuan lagi. Nggak bengal.”
“Ah, siapa bilang Jeng Mar. Sama kok. Cuma yaitu, saya dari dulu, ya, cuma satu saja. Sebetulnya saya ingin punya satu lagi, deh. Ya, seperti situ.”
“Lho, mbok ya bilang saja sama suaminya. ee.. siapa tahu ada rejeki, si putri tunggalnya itu bisa punya adik. Situ juga sama suaminya kan masih sama-sama muda.”
“Ya, itulah Jeng. Papanya itu lho, suka susah. Dulu, ya, waktu kami mau mulai berumah tangga sepakat untuk punya dua saja. Ya, itung-itung mengikuti program pemerintah, toh, Jeng. Tapi nggak tahu lah papanya tuh. Kayaknya sekarang malah tambah asik saja sama kerjaannya. Terlalu sering capek.”
“O, itu toh. Ya, mbok diberi tahu saja kalau sewaktu-waktu punya perhatian sama keluarga. ‘Kan yang namanya kerja itu juga butuh istirahat. Mbok dirayu lah gitu.”
“Wah, sudah dari dulu Jeng. Tapi, ya, tetap susah saja, tuh. Sebenernya ini, lho, Jeng Mar. Eh, maaf, ya, Jeng kalo’ saya omongin. Tapi Jeng Mar tentunya juga tau dong masalah suami-istri ‘kan.”
“Ya, memang. Ya, orang-orang yang sudah seperti kita ini masalahnya sudah macem-macem, toh, Bu. Sebenarnya Bu Soni ini ada masalah apa, toh?”
“Ya, begini Jeng, suami saya itu kalo’ bergaul sama saya suka cepet-cepet mau rampung saja, lho. Padahal yang namanya istri seperti kita-kita ini ‘kan juga ingin membutuhkan kenikmatan yang lebih lama, toh, Jeng.”
“O, itu, toh. Mungkin situ kurang lama merayunya. Mungkin suaminya butuh variasi atau model yang agak macem-macem, gitu.”
“Ya, seperti apa ya, Jeng. Dia itu kalo’ lagi mau, yang langsung saja. Saya seringnya nggak dirangsang apa-apa. Kalo’ Jeng Mar, gimana, toh? Eh, maaf lho, Jeng.”
“Kalo’ saya dan suami saya itu saling rayu-merayu dulu. Kalo’ suami saya yang mulai duluan, ya, dia biasanya ngajak bercanda dulu dan akhirnya menjurus yang ke porno-porno gitulah. Sama seperti saya juga kalau misalnya saya yang mau duluan.””Terus apa cuma gitu saja, Jeng.”
“O, ya tidak. Kalo’ saya yang merayu, biasanya punya suami saya itu saya pegang-pegang. Ukurannya besar dan panjang, lho. Terus untuk lebih menggairahkannya, ya, punyanya itu saya enyot dengan mulut saya. Saya isep-isep.”
“ii.. Iih. Jeng Mar, ih. Apa nggak jijik, tuh? Saya saja membayangkannya juga sudah geli. Hii..”
“Ya, dulu waktu pertama kali, ya, jijik juga, sih. Tetapi suami saya itu selalu rajin, kok, membersihkan gituannya, jadi ya lama-lama buat saya nikmat juga. Soalnya ukurannya itu, sih, yang lumayan besar. Saya sendiri suka gampang terangsang kalo’ lagi ngeliat. Mungkin situ juga kalo’ ngeliat, wah pasti kepengen, deh.”
“Ih, saya belon pernah, tuh, Jeng. Lalu kalo’ suaminya duluan yang mulai begimana?”
“Saya ditelanjangi sampai polos sama sekali. Dia paling suka merema-remas payudara saya dan juga menjilati putingnya dan kadang lagaknya seperti bayi yang sedang mengenyot susu.”, kataku sambil ketawa dan tampak Bu Soni juga tertawa.
“Habis itu badan saya dijilati dan dia juga paling suka menjilati kepunyaan saya. Rasanya buat saya, ya, nikmat juga dan biasanya saya semakin terangsang untuk begituan. Dia juga pernah bilang sama saya kalo’ punya saya itu semakin nikmat dan saya disuruh meliara baik-baik.”
“Ah, tapi untuk yang begituan itu saya dan suami saya sama sekali belum pernah, lho, Jeng. Tapi mungkin ada baiknya untuk dicoba juga, ya, Jeng. Tapi tadi itu masalah yang situ dijilatin punyanya. Rasa enaknya seperti apa, sih, Jeng.”
“Wah, Bu Soni ini, kok, seperti kurang pergaulan saja, toh.”
“Lho, terus terang Jeng. Memang saya belon pernah, kok.”
“Ya, geli-geli begitulah. Susah juga untuk dijelasin kalo’ belum pernah merasakan sendiri.” Lalu kami berdua tertawa.
Setelah berhenti tertawa, aku bertanya, “Bu Soni mau tau rasanya kalau gituannya dijilati?”
“Yah, nanti saya rayu, deh, suami saya. Mungkin nikmat juga ya.” Ucapnya sambil tersenyum.
“Apa perlu saya dulu yang coba?”, tanyaku sambil bercanda dan tersenyum.
“Hush!! Jeng Mar ini ada-ada saja, ah”, sambil tertawa.
“Ya, biar tidak kaget ketika dengan suaminya nanti. Kita ‘kan juga sama-sama wanita.”
“Wah, kayak lesbian saja. Nanti saya jadi ketagihan, lho. Malah takutnya lebih senang sama situ daripada sama suami saya sendiri. Ih! Malu’ akh.”, sambil tertawa.
“Atau kalo’ nggak mau gitu, nanti saya kasih tau gimana membuat penampilan bulu gituannya biar suaminya situ tertarik. Kadang-kadang bentuk dan penataannya juga mempengaruhi rangsangan suami, lho, Bu Soni.”
“Ah, Jeng ini.”
“Ee! Betul, lho. Mungkin bentuk bulu-bulu gituannya Bu Soni penampilannya kurang merangsang. Kalo’ boleh saya lihat sebentar gimana?”
“Wah, ya, gimana ya. Tapii.. ya boleh, deh. Eh, tapi saya juga boleh liat donk punyanya situ. Sama-sama donk, ‘kan kata Jeng tadi kita ini sama-sama wanita.””Ya, ‘kan saya cuma mau bantu situ supaya bisa usaha untuk punya anak lagi.””Kalo’ gitu kita ke kamar saja, deh. Suami saya juga biasanya pulang malam. Yuk, Jeng.”
Langsung kita berdua ke kamar Bu Soni. Kamarnya cukup tertata rapi, tempat tidurnya cukup besar dan dengan kasur busa. Di dindingnya ada tergantung beberapa foto Bu Soni dan suaminya dan ada juga foto sekeluarga dengan anaknya yang masih semata wayang. Saya kemudian ke luar sebentar untuk telepon ke rumah kalau pulangnya agak telat karena ada urusan dengan perkumpulan ibu-ibu dan kebetulan yang menerima suamiku sendiri dan ternyata dia setuju saja.
Setelah kita berdua di kamar, Bu Soni bertanya kepadaku, “Bagaimana Jeng? Kira-kira siap?”
“Ayolah. Apa sebaiknya kita langsung telanjang bulat saja?”
“OK, deh.”, jawab Bu Soni dengan agak tersenyum malu. Akhirnya kita berdua mulai melepas pakaian satu-persatu dan akhirnya polos lah semua. Bulu kemaluan Bu Soni cukup lebat juga hanya bentuknya keriting dan menyebar, tidak seperti miliku yang lurus dan tertata dengan bentuk segitiga ke arah bawah. Lalu aku menyentuh payudaranya yang agak bulat tetapi tidak terlalu besar, “Lumayan juga, lho, Bu.” Lalu Bu Soni pun langsung memegang payudaraku juga sambil berkata, “Sama juga seperti punya Jeng.” Aku pun minta ijin untuk mengulum kedua payudaranya dan dia langsung menyanggupi.
Kujilati kedua putingnya yang berwarna agak kecoklat-coklatan tetapi lumayan nikmat juga. Lalu kujilati secara keseluruhan payudaranya. Bu Soni nampak terangsang dan napasnya mulai memburu. “Enak juga, ya, Jeng. Boleh punya Jeng saya coba juga?””Silakan saja.”, ijinku. Lalu Bu Soni pun melakukannya dan tampak sekali kalau dia masih sangat kaku dalam soal seks, jilatan dan kulumannya masih terasa kaku dan kurang begitu merangsang. Tetapi lumayanlah, dengan cara seperti ini aku secara tidak langsung sudah menolong dia untuk bisa mendapatkan anak lagi.
Setelah selesai saling menjilati payudara, kami berdua duduk-duduk di atas tempat tidur berkasur busa yang cukup empuk. Aku kemudian memohon Bu Soni untuk melihat liang kewanitaannya lebih jelas, “Bu Soni. Boleh nggak saya liat gituannya? Kok bulu-bulunya agak keriting. Tidak seperti milik saya, lurus-lurus dan lembut.” Dengan agak malu Bu Soni membolehkan, “Yaa.. silakan saja, deh, Jeng.” Aku menyuruh dia, “Rebahin saja badannya terus tolong kangkangin kakinya yang lebar.” Begitu dia lakukan semuanya terlihatlah daging kemaluannya yang memerah segar dengan bibirnya yang sudah agak keluar dikelilingi oleh bulu yang cukup lebat dan keriting. mm.. Cukup merangsang juga penampilannya.
Kudekatkan wajahku ke liang kewanitaannya lalu kukatakan kepada Bu Soni bahwa bentuk kemaluannya sudah cukup merangsang hanya saja akan lebih indah pemandangannya bila bulunya sering disisir agar semakin lurus dan rapi seperti milikku. Lalu kusentuh-sentuh daging kemaluannya dengan tanganku, empuk dan tampak cukup terpelihara baik, bersih dan tidak ada bau apa-apa. Nampak dia agak kegelian ketika sentuhan tanganku mendarat di permukaan alat kelaminnya dan dia mengeluh lirih, “Aduh, geli, lho, Jeng.”
“Apa lagi kalo’ dijilat, Bu Soni. Nikmat, deh. Boleh saya coba?”
“Aduh, gimana, ya, Jeng. Saya masih jijik, sih.”
“Makanya dicoba.”, kataku sambil kuelus salah satu pahanya.
“mm.. Ya, silakan, deh, Jeng. Tapi saya tutup mata saja, ah.”
Lalu kucium bibir kemaluannya sekali, chuph!! “aa.. Aah.”, Bu Soni mengerang dan agak mengangkat badannya. Lalu kutanya, “Kenapa? Sakit, ya?” Dia menjawab, “Geli sekali.” “Saya teruskan, ya?” Bu Soni pun hanya mengangguk sambil tersenyum. Kuciumi lagi bibir kemaluannya berkali-kali dan rasa geli yang dia rasakan membuat kedua kakinya bergerak-gerak tetapi kupegangi kedua pangkal pahanya erat-erat. Badannya bergerinjal-gerinjal, pantatnya naik turun. Uh! Pemandangan yang lucu sekali, aku pun sempat ketawa melihatnya. Saya keluarkan lidah dan saya sentuhkan ujungnya ke bibir kemaluannya berkali-kali. Oh! Aku semakin terbawa napsu. Kujilati keseluruhan permukaan tempenya, gerakanku semakin cepat dan ganas. Oh, Bu Soni, tempemu nikmaa..aat sekali.
Aku sudah tak ingat apa-apa lagi. Semua terkonsentrasi pada pekerjaan menjilati liang kewanitaan Bu Soni. Emm.., Enak sekali. Terus kujilati dengan penuh napsu. Pinggir ke tengah dan gerakan melingkar. Kumasukan lidahku ke dalam celah bibir kemaluannya yang sudah mulai membuka. Ouw! Hangat sekali dan cairannya mulai keluar dan terasa agak asin dan baunya yang khas mulai menyengat ke dalam lubang hidungku. Tapi aku tak peduli, yang penting rasa kemaluan Bu Soni semakin lezat apalagi dibumbui dengan cairan yang keluar semakin banyak. Kuoleskan ke seluruh permukaan kemaluannya dengan lidahku. Jilatanku semakin licin dan seolah-olah semua makanan yang ku makan pada saat acara arisan tadi rasanya tidak ada apa-apanya. Badan Bu Soni bergerinjal semakin hebat begitu juga pantatnya naik-turun dengan drastis. Dia mengerang lirih, “aa.. Ah, ee.. Eekh, ee.. Eekh, Jee.. Eeng, auw, oo.. Ooh. Emm.. Mmh. Hah, hah, hah,.. Hah.” Dan saat mencapai klimaks dia merintih, “aa.., aa.., aa.., aa.., aah”, Cairan kewanitaannya keluar agak banyak dan deras. OK, nampaknya Bu Soni sudah mencapai titik puncaknya.
Tampak Bu Soni telentang lemas dan aku tanya, “Bagaimana? Enak? Ada rasa puas?” “Lumayan nikmat, Jeng. Situ nggak jijik, ya.”
“Kan sudah biasa juga sama suami.” Kemudian aku bertanya sembari bercanda, “Situ mau coba punya saya juga?”
“Ah, Jeng ini. Jijik ‘kan.”, sembari ketawa.
“Yaa.. Mungkin belon dicoba. Punya saya selalu bersih, kok. ‘Kan suami saya selalu mengingatkan saya untuk memeliharanya.” Kemudian Bu Soni agak berpikir, mungkin ragu-ragu antara mau atau tidak. Lalu, “Boleh, deh, Jeng. Tapi saya pelan-pelan saja, ah. Nggak berani lama-lama.”
“Ya, ndak apa-apa. ‘Kan katanya situ belum biasa. Betul? Mau coba?” tantangku sembari senyum. Lalu dia cuma mengangguk. Kemudian aku menelentangkan badanku dan langsung kukangkangkan kedua kakiku agar terlihat liang kewanitaanku yang masih indah bentuknya. Tampak Bu Soni mulai mendekatkan wajahnya ke liang kewanitaanku lalu berkata, “Wah, Jeng bulu-bulunya lurus, lemas dan teratur. Pantes suaminya selalu bergairah.” Aku hanya tertawa.
Tak lama kemudian aku rasakan sesuatu yang agak basah menyentuh kemaluanku. Kepalaku aku angkat dan terlihat Bu Soni mulai berani menyentuh-nyentuhkan ujung lidahnya ke liang kewanitaanku. Kuberi dia semangat, “Terus, terus, Bu. Saya merasa nikmat, kok”. Dia hanya memandangku dan tersenyum. Kurebahkan lagi seluruh tubuhku dan kurasakan semakin luas penampang lidah Bu Soni menjilati liang kewanitaan saya. Oh! Aku mulai terangsang. Emm.. Mmh. Bu Soni sudah mulai berani. oo.. Ooh nikmat sekali. Sedaa.. Aap. Terasa semakin lincah gerakan lidahnya, aku angkat kepalaku dan kulihat Bu Soni sudah mulai tenggelam dalam kenikmatan, rupanya rasa jijik sudah mulai sirna. Gerakan lidahnya masih terasa kaku, tetapi ini sudah merupakan perkembangan. Syukurlah. Mudah-mudahan dia bisa bercumbu lebih hebat dengan suaminya nanti.
Lama-kelamaan semakin nikmat. Aku merintih nikmat, “Emm.. Mmh. Ouw. aa.. Aah, aa.. Aah. uu.. uuh. te.. te.. Rus teruu..uus.” Bibir kemaluanku terasa dikulum oleh bibir mulut Bu Soni. Terasa dia menciumi kemaluanku dengan bernafsu. Emm.. Mmh, enaknya. Untuk lebih nikmat Bu Soni kusuruh, “Pegang dan elus-elus paha saya. Enak sekali Bu.” Dengan spontan kedua tangannya langsung mengayunkan elusannya di pahaku. Dia mainkan sampai pangkal paha. Bukan main! Sudah sama layaknya aku main dengan suamiku sendiri. Terlihat Bu Soni sudah betul-betul asyik dan sibuk menjilati liang kewanitaanku. Gerakan ke atas ke bawah melingkar ke seluruh liang kewanitaanku. Seolah-olah dia sudah mulai terlatih.
Kemudian aku suruh dia untuk menyisipkan lidahnya ke dalam liang kewanitaanku. Dahinya agak berkerut tetapi dicobanya juga dengan menekan lidahnya ke lubang di antara bibir kemaluan saya. “Aaa.. Aakh! Nikmat sekali. Aku mulai naik untuk mencapai klimaks. Kedua tangannya terus mengelus kedua pahaku tanpa henti. Aku mulai naik dan terasa lubang kemaluanku semakin hangat, mungkin lendir kemaluanku sudah banyak yang keluar. Akhirnya aku pun mencapai klimaks dan aku merintih, “aa.. Aah, uuh”. Sialan Bu Soni tampaknya masih asyik menjilati sedangkan badanku sudah mulai lemas dan lelah. Bu Soni pun bertanya karena gerak kaki dan badanku berhenti, “Gimana, Jeng?” Aku berkata lirih sambil senyum kepadanya, “Jempolan. Sekarang Bu Soni sudah mulai pinter.” Dia hanya tersenyum.
Aku tanya kembali, “Bagaimana? Situ masih jijik nggak?”
“Sedikit, kok.”, jawabnya sembari tertawa, dan akupun ikut tertawa geli.
“Begitulah Bu Soni. Mudah-mudahan bisa dilanjutkan lebih mesra lagi dengan suaminya, tetapi jangan bilang, lho, dari saya.”
“oo.., ya, ndak, toh, Jeng. Saya ‘kan juga malu. Nanti semua orang tahu bagaimana?””Sekarang yang penting berusaha agar putrinya bisa punya adik. Kasihan, lho, mungkin sejak dulu dia mengharapkan seorang adik.”
“Ya, mudah-mudahan lah, Jeng. Rejeki akan segera datang. Eh! Ngomong-ngomong, Jeng mau nggak kalo’ kapan-kapan kita bersama kayak tadi lagi?”
“Naa.., ya, sudah mulai ketagihan, deh. Yaa, itu terserah situ saja. Tapi saya nggak tanggung jawab, lho, kalo’ situ lantas bisa jadi lesbian juga. Saya ‘kan cuma kasih contoh saja.”, jawabku sembari mengangkat bahu dan Bu Soni hanya tersenyum.
Kemudian aku cepat-cepat berpakaian karena ingin segera sampai di rumah, khawatir suamiku curiga dan berprasangka yang tidak-tidak. Waktu aku pamit, Bu Soni masih dalam keadaan telanjang bulat berdiri di depan kaca menyisir rambut. Untung kejadian ini tak pernah sampai terbuka sampai aku tulis cerita yang aneh dan lucu ini. Soal bagaimana kemesraan Bu Soni dan suaminya selanjutnya, itu bukan urusan saya tetapi yang penting kelezatan liang kewanitaan Bu Soni sudah pernah aku rasakan.

RANJANG KECIL










Mertuaku adalah seorang janda dengan kulit yang putih, cantik, lembut, dan berwajah keibu ibuan, dia selalu mengenakan kebaya jika keluar rumah. Dan mengenakan daster panjang bila didalam rumah, dan rambutnya dikonde keatas sehingga menampakkan kulit lehernya yang putih jenjang.
Sebenarnya semenjak aku masih pacaran dengan anaknya, aku sudah jatuh cinta padanya Aku sering bercengkerama dengannya walaupun aku tahu hari itu pacarku kuliah. Diapun sangat baik padaku, dan aku diperlakukan sama dengan anak anaknya yang lain. Bahkan tidak jarang bila aku kecapaian, dia memijat punggungku.
Setelah aku kawin dengan anaknya dan memboyong istriku kerumah kontrakanku, mertuaku rajin menengokku dan tidak jarang pula menginap satu atau dua malam. Karena rumahku hanya mempunyai satu kamar tidur, maka jika mertuaku menginap, kami terpaksa tidur bertiga dalam satu ranjang. Biasanya Ibu mertua tidur dekat tembok, kemudian istri ditengah dan aku dipinggir. Sambil tiduran kami biasanya ngobrol sampai tengah malam, dan tidak jarang pula ketika ngobrol tanganku bergerilya ketubuh istriku dari bawah selimut, dan istriku selalu mendiamkannya.

Bahkan pernah suatu kali ketika kuperkirakan mertuaku sudah tidur, kami diam diam melakukan persetubuhan dengan istriku membelakangiku dengan posisi agak miring, kami melakukankannya dengan sangat hati hati dan suasana tegang. Beberapa kali aku tepaksa menghentikan kocokanku karena takut membangunkan mertuaku. Tapi akhirnya kami dapat mengakhirinya dengan baik aku dan istriku terpuaskan walaupun tanpa rintihan dan desahan istriku.
Suatu malam meruaku kembali menginap dirumahku, seperti biasa jam 21.00 kami sudah dikamar tidur bertiga, sambil menonton TV yang kami taruh didepan tempat tidur. Yang tidak biasa adalah istriku minta ia diposisi pinggir, dengan alasan dia masih mondar mandir kedapur. Sehingga terpaksa aku menggeser ke ditengah walaupun sebenarnya aku risih, tetapi karena mungkin telalu capai, aku segera tidur terlebih dahulu.
Aku terjaga pukul 2.00 malam, layar TV sudah mati. ditengah samar samar lampu tidur kulihat istriku tidur dengan pulasnya membelakangiku, sedangkan disebelah kiri mertuaku mendengkur halus membelakangiku pula. Hatiku berdesir ketika kulihat leher putih mulus mertuaku hanya beberapa senti didepan bibirku, makin lama tatapan mataku mejelajahi tubuhnya, birahiku merayap melihat wanita berumur yang lembut tergolek tanpa daya disebelahku..
Dengan berdebar debar kugeser tubuhku kearahnya sehingga lenganku menempel pada punggungnya sedangkan telapak tanganku menempel di bokong, kudiamkan sejenak sambil menunggu reaksinya. Tidak ada reaksi, dengkur halusnya masih teratur, keberanikan diriku bertindak lebih jauh, kuelus bokong yang masih tertutup daster, perlahan sekali, kurasakan birahiku meningkat cepat. pen|sku mulai berdiri dan hati hati kumiringkan tubuhku menghadap mertuaku.
Kutarik daster dengan perlahan lahan keatas sehingga pahanya yang putih mulus dapat kusentuh langsung dengan telapak tanganku. Tanganku mengelus perlahan kulit yang mulus dan licin, pahanya keatas lagi pinggulnya, kemudian kembali kepahanya lagi, kunikmati sentuhan jariku inci demi inci, bahkan aku sudah berani meremas bokongnya yang sudah agak kendor dan masih terbungkus CD.
Tiba tiba aku dikejutkan oleh gerakan mengedut pada bokongnya sekali, dan pada saat yang sama dengkurnya berhenti.
Aku ketakutan, kutarik tanganku, dan aku pura pura tidur, kulirik mertuaku tidak merubah posisi tidurnya dan kelihatannya dia masih tidur. Kulirik istriku, dia masih membelakangiku, pen|sku sudah sangat tegang dan nafsu birahiku sudah tinggi sekali, dan itu mengurangi akal sehatku dan pada saat yang sama meningkatkan keberanianku.
Setelah satu menit berlalu situasi kembali normal, kuangkat sarungku sehingga burungku yang berdiri tegak dan mengkilat menjadi bebas, kurapatkan tubuh bagian bawahku kebokong mertuaku sehingga ujung pen|sku menempel pada pangkal pahanya yang tertutup CD. Kenikmatan mulai menjalar dalam pen|sku, aku makin berani, kuselipkan ujung pen|sku di jepitan pangkal pahanya sambil kudorong sedikit sedikit, sehingga kepala pen|sku kini terjepit penuh dipangkal pahanya, rasa pen|sku enak sekali, apalagi ketika mertuaku mengeser kakinya sedikit, entah disengaja entah tidak.
Tanpa meninggalkan kewaspadaan mengamati gerak gerik istri, kurangkul tubuh mertuaku dan kuselipkan tanganku untuk meremas buah dadanya dari luar daster tanpa BH. Cukup lama aku melakukan remasan remasan lembut dan menggesekan gesekkan pen|sku dijepitan paha belakangnya. Aku tidak tahu pasti apakah mertuaku masih terlelap tidur atau tidak tapi yang pasti kurasakan puting dibalik dasternya terasa mengeras. Dan kini kusadari bahwa dengkur halus dari mertuaku sudah hilang.., kalau begitu..pasti ibuku mertuaku sudah terjaga..? Kenapa diam saja? kenapa dia tidak memukul atau menendangku, atau dia kasihan kepadaku? atau dia menikmati..? Oh.. aku makin terangsang.
Tak puas dengan buah dadanya, tanganku mulai pindah keperutnya dan turun keselangkangannya, tetapi posisinya yang menyebabkan tangan kananku tak bisa menjangkau daerah sensitifnya. Tiba tiba ia bergerak, tangannya memegang tanganku, kembali aku pura pura tidur tanpa merrubah posisiku sambil berdebar debar menanti reaksinya. Dari sudut mataku kulihat dia menoleh kepadaku, diangkatnya tanganku dengan lembut dan disingkirkannya dari tubuhnya, dan ketika itupun dia sudah mengetahui bahwa dasternya sudah tersingkap sementara ujung pen|sku yang sudah mengeras terjepit diantara pahanya.
Jantungku rasanya berhenti menunggu reaksinya lebih jauh. Dia melihatku sekali lagi, terlihat samar samar tidak tampak kemarahan dalam wajahnya, dan ini sangat melegakanku .
Dan yang lebih mengejutkanku adalah dia tidak menggeser bokongnya menjauhi tubuhku, tidak menyingkirkan pen|sku dari jepitan pahanya dan apalagi membetulkan dasternya. Dia kembali memunggungiku meneruskan tidurnya, aku makin yakin bahwa sebelumnya mertuaku menikmati remasanku di payudaranya, hal ini menyebabkan aku berani untuk mengulang perbuatanku untuk memeluk dan meremas buah dadanya. Tidak ada penolakan ketika tanganku menyelusup dan memutar mutar secara lembut langsung keputing teteknya melalui kancing depan dasternya yang telah kulepas. Walaupun mertuaku berpura pura tidur dan bersikap pasif, tapi aku dengar nafasnya sudah memburu.
Cukup lama kumainkan susunya sambil kusodokkan kemaluanku diantara jepitan pahanya pelan pelan, namun karena pahanya kering, aku tidak mendapat kenikmatan yang memadai, Kuangkat pelan pelan pahanya dengan tanganku, agar aku pen|sku terjepit dalam pahanya dengan lebih sempurna, namun dia justru membalikkan badannya menjadi terlentang, sehingga tangannya yang berada disebelah tangannya hampir menyetuh pen|sku, bersamaan dengan itu tangan kirinya mencari selimutnya menutupi tubuhnya. Kutengok istri yang berada dibelakangku, dia terlihat masih nyenyak tidurnya dan tidak menyadari bahwa sesuatu sedang terjadi diranjangnya.
Kusingkap dasternya yang berada dibawah selimut, dan tanganku merayap kebawah CDnya. Dan kurasakan vag|nanya yang hangat dan berbulu halus itu sudah basah. Jari tanganku mulai mengelus, mengocok dan meremas kemaluan mertuaku. Nafasnya makin memburu sementara dia terlihat berusaha untuk menahan gerakan pinggulnya, yang kadang kadang terangkat, kadang mengeser kekiri kanan sedikit. Kunikmati wajahnya yang tegang sambil sekali kali menggigit bibirnya. Hampir saja aku tak bisa menahan nafsu untuk mencium bibirnya, tapi aku segera sadar bahwa itu akan menimbulkan gerakan yang dapat membangunkan istriku.
Setelah beberapa saat tangan kanannya masih pasif, maka kubimbing tangannya untuk mengelus elus pen|sku, walaupun agak alot akhirnya dia mau mengelus pen|sku, meremas bahkan mengocoknya. Agak lama kami saling meremas, mengelus, mengocok dan makin lama cepat, sampai kurasakan dia sudah mendekati puncaknya, mertuakan membuka matanya, dipandanginya wajahku erat erat, kerut dahinya menegang dan beberapa detik kemudian dia menghentakkan kepalanya menengadah kebelakang. Tangan kirinya mencengkeram dan menekan tanganku yang sedang mengocok lobang kemaluannya. Kurasakan semprotan cairan di pangkal telapak tanganku. Mertuaku mencapai puncak kenikmatan, dia telah orgasme. Dan pada waktu hampir yang bersamaan air maniku menyemprot kepahanya dan membasahi telapak tangannya. Kenikmatan yang luar biasa kudapatkan malam ini, kejadianya begitu saja terjadi tanpa rencana bahkan sebelumnya membayangkanpun aku tidak berani.
Sejak kejadian itu, sudah sebulan lebih mertuaku tidak pernah menginap dirumahku, walaupun komunikasi dengan istriku masih lancar melalui telpon. Istriku tidak curiga apa apa tetapi aku sendiri merasa rindu, aku terobsesi untuk melakukannya lebih jauh lagi. Kucoba beberapa kali kutelepon, tetapi selalu tidak mau menerima. Akhirnya setelah kupertimbangkan maka kuputuskan aku harus menemuinya.
Hari itu aku sengaja masuk kantor separo hari, dan aku berniat menemuinya dirumahnya, sesampai dirumahnya kulihat tokonya sepi pengunjung, hanya dua orang penjaga tokonya terlihar asik sedang ngobrol. Tokonya terletak beberapa meter dari rumah induk yang cukup besar dan luas. Aku langsung masuk kerumah mertuaku setelah basa basi dengan penjaga tokonya yang kukenal dengan baik. Aku disambut dengan ramah oleh mertuaku, seolah olah tidak pernah terjadi sesuatu apa apa, antara kami berdua, padahal sikapku sangat kikuk dan salah tingkah.
“Tumben tumbenan mampir kesini pada jam kantor?”
“Ya Bu, soalnya Ibu nggak pernah kesana lagi sih”
Mertuaku hanya tertawa mendengarkan jawabanku
“Ton. Ibu takut ah.. wong kamu kalau tidur tangannya kemana mana.., Untung istrimu nggak lihat, kalau dia lihat.. wah.. bisa berabe semua nantinya..”
“Kalau nggak ada Sri gimana Bu..?” tanyaku lebih berani.
“Ah kamu ada ada saja, Memangnya Sri masih kurang ngasinya, koq masih minta nambah sama ibunya.”
“Soalnya ibunya sama cantiknya dengan anaknya” gombalku.
“Sudahlah, kamu makan saja dulu nanti kalau mau istirahat, kamar depan bisa dipakai, kebetulan tadi masak pepes” selesai berkata ibuku masuk ke kamarnya.
Aku bimbang, makan dulu atau menyusul mertua kekamar. Ternyata nafsuku mengalahkan rasa lapar, aku langsung menyusul masuk kekamar, tetapi bukan dikamar depan seperti perintahnya melainkan kekamar tidur mertuaku. Pelan pelan kubuka pintu kamarnya yang tidak terkunci, kulihat dia baru saja merebahkan badannya dikasur, dan matanya menatapku, tidak mengundangku tapi juga tidak ada penolakan dari tatapannya. Aku segera naik keranjang dan perlahan lahan kupeluk tubuhnya yang gemulai, dan kutempelkan bibirku penuh kelembutan. Mertuaku menatapku sejenak sebelum akhirnya memejamkan matanya menikmati ciuman lembutku. Kami berciuman cukup lama, dan saling meraba dan dalam sekejap kami sudah tidak berpakaian, dan nafas kami saling memburu. Sejauh ini mertuaku hanya mengelus punggung dan kepalaku saja, sementara tanganku sudah mengelus paha bagian dalam. Ketika jariku mulai menyentuh vag|nanya yang tipis dan berbulu halus, dia sengaja membuka pahanya lebar lebar, hanya sebentar jariku meraba kemaluanya yang sudah sangat basah itu, segera kulepas ciumanku dan kuarahkan mulutku ke vag|na merona basah itu.
Pada awalnya dia menolak dan menutup pahanya erat erat.
“Emoh.. Ah nganggo tangan wae, saru ah.. risih..” namun aku tak menghiraukan kata katanya dan aku setengah memaksa, akhirnya dia mengalah dan membiarkan aku menikmati sajian yang sangat mempesona itu, kadang kadang kujilati klitorisnya, kadang kusedot sedot, bahkan kujepit itil mertuaku dengan bibirku lalu kutarik tarik keluar.
“Terus nak Ton.., Enak banget.. oh.. Ibu wis suwe ora ngrasakke penak koyo ngene sstt”
Mertuaku sudah merintih rintih dengan suara halus, sementara sambil membuka lebar pahanya, pinggulnya sering diangkat dan diputar putar halus. Tangan kiriku yang meremas remas buah dadanya, kini jariku sudah masuk kedalam mulutnya untuk disedot sedot.
Ketika kulihat mertuaku sudah mendekati klimax, maka kuhentikan jilatanku ditempenya, kusodorkan jalan tolku kemulutnya, tapi dia membuang muka kekiri dan kekanan, mati matian tidak mau mengisap pen|sku. Dan akupun tidak mau memaksakan kehendak, kembali kucium bibirnya, kutindih tubuhnya dan kudekap erat erat, kubuka leber lebar pahanya dan kuarahkan ujung pen|sku yang mengkilat dibibr vag|nanya.

Pesta Sex di Kos-kosan







Bro, nih dapat dari tetangga.
Sory klo repost. Om Mod, klo emang repost, di delete aja.
Selamat menikmati....

Namaku adalah wawan, berumur 23 tahun, aku mempunyai tubuh yang atletis sehingga banyak cewe yang ingin jadi pacarku, namun aku belum mau terikat sama pacar, aku masih mau bebas menikmati masa muda…statusku adalah mahasiswa disalah-satu PTN dikotaku.

Hari ini adalah hari senin, jadwal kampusku padat sekali sehingga pagi-pagi aku sudah bangun dan bersiap kekampus, o-i-a aku tinggal in the kost…tempat kost ku dilantai 1 sementara dilantai dua adalah tempat kost cewe.
Selesai mandi aku langsung berpakaian kemudian ngopi sambil merokok. Ketika aku sedang nongkrong didepan kamarku turun seoarang laki-laki dari lantai dua, dia tidak menegurku dan langsung lewat didepanku begitu saja..dalam hatiku berkata
"sombong banget nih cowo, pasti habis ambil jatah ama Tia.
Yang lewat tadi adalah pacarnya tia, cewe. yang ngekost diatas. Tia memang cantik, tinggi, putih dan bodynya padat. Pagi itu aku gue langsung konak ingat Tia, sempat terlintas untuk ML dengannya.
Sesampainya di kampus Erik langsung menghampiriku, erik adalah teman seperjuanganku, biasa dalam hal berburu kenikmatan sesaat. "wan, gimana kalau ntar malam kita berburu lagi, udah lama nih nggak pernah diasah? erik berkata sambil tersenyum.
Akh aku lagi ada proyek Rik, nanti aja klu sdh selesai, baru kita berburu lagi, tempatnya terserah kamu deh." balasku sambil berlalu..
Sebenarnya aku masih kepikiran sama Tia…maka akupun menyusun rencana untuk ntar malam..
Untuk diketahui sebenarnya keinginan untuk ML itu nggak muncul begitu saja, ini karena kejadian beberapa malam yang lalu, saat itu suasana tempat kost lagi sunyi, akupun iseng naik ke lantai dua untuk minjam buku, sesampainya di depan kamar Tia, terdengar eluhan-eluhan nikmat…nalurikupun segera menuntun untuk melihat yang terjadi di dalam, kebetulan sedikit ada celah di balik kaca nako jendelanya. wah ternyata si Tia lagi dient*t ama pacarnya. Sehingga niatku untuk meminjam buku tidak jadi.
Malam harinya aku pun menyusun rencana……
Malam itu kira-kira pukul 9 malam suasana di kostku lagi sepi, orang disamping kamarku lagi keluar cari tugas diwarnet. Aku pun berfikir inilah saatnya untuk bercinta sama Tia. Otakku sudah dditutupi oleh nafsu birahi yang tinggi..
Akupun naik keatas kekamar Tia, kebetulan kamarnya terbuka, kulihat Tia sedang mengerjakan tugas, dia terlihat seksi menggunakan sarung bali dan tanktop.
"Hi..lagi ngapain nih??" tanyaku.
"Biasa kerja tugas, kenapa Wan lu mau minjam buku lagi..?
"nggak..gue cuman bete dibawah kaga ada orang makanya gue naik..nggak mengganggu kan?"
"nggak kok, kebetulan nih gue lagi bikin tugas di corel, lu bantuin gue ya, lu kan jago corel.."
"beres bos.."jawabku "mana yang lainnya kok sepi banget?"
"yeny ada tuh dikamarnya sama cowonya,, kayanya lagi asyik.." jawab Tia sambil tersenyum
"eh gimana bikin lay out iklan yang bagus Wan, lu ajarin gue donk"
Akupun mengambil alih komputer sehingga tia kini duduk dibelakangku..
"Wan lu bikinin yang meriah iklannya ya. Kalo bisa ini warnanya lu rubah biar kontras" sambil tia menujuk pada monitor sehingga toketnya menempel di punggungku..
"beres bos.." konsentrasi kupun hilang..yang ada hanya nafsu sementara senjataku sudah mulai tegang…akupun mulai merencanakan sesuatu..
"tia tutup donk pintunya dingin banget nih ntar gue sakit tipes lagi gara-gara batuin lu."
"Ga usah deh wan..ga enak masa kita berdua dalam kamar..lu kan bukan pacar gue.."
"makanya lu jangan berfikiran kotor terus donk, masa lu ngga percaya ama gue, emangnya lu mau gue apain???"
"oke deh, tapi lu jangan macem-macem ya, just kerjain tugas gue tuh.."
Tia pun menutup pintu kamarnya, kemudian duduk kembali disampingku.
Nyali ku agak ciut karena ternyata tia bukan cewe gampangan baru disuruh tutup pintu aja susah banget gimana kalo gue suruh buka baju bisa teriak nanti. Aku pun berencana mengurungkan niat ku karena takut kalo nanti Tia teriak..
Kukerjakan tugasnya sementara sesekali tia menunjuk monitar jika ada yang salah dan toketnya menempel dipunggungku..
Waktu sudah pukul 10 malam nampaknya tia sudah mulai ngantuk di pun menyandarkan kepalanya dibahuku..
"pinjam bahu lu ya..leher gue pegel nih.. wan matiin lagunya udah malem nih.." akupun mematikan winamp dikomputer..
suasana dikamar kini sangat hening namun tiba-tiba terdengar suara rintihan nikmat dari kamar sebelah, dan kami pun saling berpandangan..
"diapain tuh yeni ama pacarnya?" tanyaku pura-pura bego
"biasa…lu kaya kaga' tau aja wan"
Akupun mulai konak sementara tia kambali bersandar dibahuku..
Suara rintihan yeni semakin lama semakin terlihat nikmat dan tanpa kusadari nafas tia kini mulai tidak teratur..wah lagi konak nih cewe'. ini kesmpatan gue pikirku dalam hati..akupun bersiap-siap menunggu waktu yang tepat..kuperhatikan tia duduknya mulai gelisah..aku pun berbalik dan memegang tangannya dan langsung melumat bibirnya…tia tampak terkejut dan mendorongku namun langsung kudekap erat-erat tubuhnya sehingga dia tidak bisa bergerak..
"lu apa-apaan sih?" dia pun mendorong tubuhku dengan kuat sehingga pelukan ku pun terlepas…
"sory tia…gue kelepasan…abiz gue konak dengar suara yeny dari sebelah…"
"sory banget yaach?" aku pun memohon sama tia
Tia pun pun hanya diam menatapku dan kemudian mengangguk..
Oh..syukurlah tia mau maafin gue..gue takut dia melapor di ibu kost bisa diusir gue..
"lu tidur aja biar tugas lu gue yang selesaikan, gue janji ga bakal ngapa-ngapain lu.."
Tia masih terdiam nampaknya dia bingung harus ngapain…
Akupun kembali mengerjakan tugasnya tia yang tinggal sedikit..
10 menit kemudian tugasnya tia udah selesai..
"tugas lu udah selesai..gue turun ya..sory tadi gue khilaf banget.."
Aku pun berdiri dan keluar dari kamar..tiba-tiba tia memanggilku..
"wan thanks ya..sory tadi gue gu dorong lu terlalu keras.."
"ga papa..gue cabut dulu ya.."
Aku pun kembali kekamar ku menahan konak..kemudian karena terlalu konak akupun onani dikamar dibantu koleksi film bokep ku dikomputer..setelah onani tiba-tiba hpku berbunyi tanda ada sms..teryata dari tia..akupun langsung baca isi sms itu.
"wan lu kekamar donk sekarang, ada yang mau gue kasih"
Wow pucuk dicinta ulam pun tiba pikirku dalam hati..ternyata tia juga konak nih..pasti dia mau ngajak gue ML.
Akupun langsung naik kekamar tia ditangga aku berpapasan sama yeny dengan pacarnya. Kayanya pacarnya udah mau pulang, sampai didepan kamar tia kuketuk pintunya.
"masuk aja ga dikunci kok.." jawab tia dari dalam.
Aku pun masuk kedalam dan kulihat tia sedang barbaring dikasurnya sementara sarung balinya agak terangkat sehingga pahanya yang putih terlihat…kututup pintu dan langsung ku cium bibirnya tia..dan tia mendorongku..
"eit sabar dulu donk..lu udah konak banget ya…sebenarnya tadi gue juga konak tapi gara-gara lu tiba tiba brutal gue jadi takut tau.." "tapi lu janji jangan bilang siapa-siapa yah apalagi ama pacar gue"
"beres sayang" dan langsung kulumat bibirnya..tia pun membalas dengan memainkan lidahnya,,sesekali dia menghisap lidahku..kini tangan ku mulai memainkan toketnya, dan mulai menciumi lehernya
"sshhh..uhfff..terus wan..enak banget wan.."
Kumasukkan tangan ku kedalam tank tonktopnya dan ternyata dia sudah tidak pake bh..kuremas-remas kedua bukit kembarnya..tia nampak sangat menikmatinya..tangannya mengelus-elus kepalaku dan mulutnya mengeluarkan desahan desahan kenikmatan….
Kini kulepaskan tanktop serta sarung balinya dan kini tia telah bugil karena dia juga sudah tidak mngenakan cd..
Tia pun juga melepaskan baju dan celana pendek serta cd ku…
"wow gede banget punya lu wan ga muat nih masuk memiaw gue" tia pun mengelus-ngelus kontholku.
"lebih gede mana konthol gue atau konthol pacar mu tia?" tanyaku
"konthol lu jauh lebih gede, tapi gue takut ntar memiaw gue jadi longgar, pokoknya ini yang pertama dan terakhir wan ya, soalnya gue kasian tadi liat lu udah konak banget, pasti bawaannya ga enak kan?" sementara tangannya tia masih mengelus-elus konthol ku, ?bisa longgar memiaw gue nih kalo tiap hari dimasukin rudal kaya gini?
"oke deh gue ga bakal minta lagi tapi kalo ntar lu pengen lagi sms aja.."
Tia pun tersenyum dan langsung melumat bibir ku….aku pun membalas dengan hangat dan kumainkan klitorisnya dengan jari-jariku…
Shhh…uhffff..
Kini kujilat puting susunya yang berwarna pink..
Shhh…oh..ouchhh enak banget wan terus wan gue ga tahan nih…
Kini kepalaku turun kearah perutnya dan tangannya tia mendorong kepalaku supaya lebih turun ke bawah. Kuturunkan kepalaku arah vag|nannya, jembut nya gondrong..kayanya ngga pernah dicukur namun vaginya sangat harum sehingga birahi ku tambah meningkat dan kumudian ku mainkan klitorisnya dengan lidahku…
"Ouh…uhff…..enak banget wan lidah lu enak banget..terusin wan puasin aku malam ini" suara tia mulai meracau…
Aku pun menegurnya
"jangan terlalu ribut ntar kedengeran ama anak2 disebelah…"
"ga ada orang kok cuman yeny yang ada, yang lainnya lagi pada pulang kampung, biarin aja yeny dengar siapa suruh tadi juga ribut.."
"lanjutin lagi wan lidah lu enak banget.."
Aku pun melanjutan memainkan klitorisnya tia dan jariku memainkan bibir vag|nanya..
"uhfff..enak banget nih wan gue ngga tahan …."
Akupun semakin liar memainkan lidah ku kadang kumasukkan kedalam lubag vag|nanya….tia pun kadang menjambak rambut ku menahan nikmat..
"wan gue ga tahan nih gue meu keluar….terus wan ouhhh…..gue sampe wan….uhffffff"
"cairan kenikmatan keluar dari lubang vag|nanya dan aku pu terus menjilatnya sampai bersih.
"Gila kamu wan ternyata lu hebat banget…bisa ketagihan gue…"
Akun pun maju kedepan sehingga konthol ku kini berada didepan bibirnya..
"ogah ah wan..gue ga mau isep konthol lu..konthol pacar gue aja ga pernah gue isep…gue jijik"
Namun aku tidak memperdulikkannya karena birahiku sudah memuncak..kutarik kepalanya sehingga konthol ku kini menempel dibibirnya..kupaksa masuk sehingga mulutnya tia kini mulai terbuka. Kudorong pelan pelan dan nampaknya kini tia mulai menikmatinya dia membuka mulutnya sehingga kotolku masuk setengah..
Tia pun mengulumnya. mulutnya memompa konthol ku…
"Ouhhh nikmat banget tia,…terusin isep yang kuat konthol gue…."
tia pun melepaskan kontholku dan menuruhku berbaring…
"lu baring aja wan biar gue isep, ternyata konthollu enak banget"
Kini tia asik mengulum kontholku dengan ganasnya dan tangannya memainkan biji pelirku..
"ouhh..tia enak banget sayang….terus…kocok terus konthol gue pake mulut lu…"
Lagi asik tia mengulum kontholku tiba-tiba pintu kamar dibuka…
Kamipun terkejut..ternyata yeny…
Gue boleh ikutan ngga? gua konak banget nih denger suara lu tia…pacar gue udah pulang tapi gue ngga puas abis dia cepet banget keluar…
"gabung aja, wawan juga kayanya kuat kok muasin kita berdua..kunci pintunya ntar ada yang ganggu" tia langsung menyuruh masuk yeny..
Yeny pun langsung masuk dan melepas dasternya dan langsug bugil karena tidak pake cd dan bh…
Wow tubuh yenny ngga kalah baguss ama tia, putih, bersih n toketnya gede banget mungkin terlalu sering digunakan sama pacarnya kali.
Tia pun melanjutkan mengulum kontholku dan yeny langsung melumat bibirku..
Gila niatnya mau mempekosa kok malah gue yang diperkosa, ama dua cewe cantik lagi..
Yeny turun ke dadaku dan menjilati puting ku..
Ouh..nikmat banget..lu berdua emang jagooo. Terus sayang i love it….kini yeny turun keselangkangan ku dan bergantian mengulum kontholku sama tia..
Sungguh sahabat yang serasi saling berbagi konthol……
Kini tia menghadapkan memiawnya ke mulutku..
"sekarang lu makan nih memiaw gue…."
Tia pun mendorong memiawnya kemulutku dan aku pun langsung menjulurkan lidahku…
Tia pun terus memompa semetara yeny teru asyik mengulum kontholku….
Kira-kira sepuluh menit kami saling ber-oral seks…
Aku pun membaringkan tia di kasur semantara yeny duduk sambil memainkan jari di memiawnya…

penyerbuan siti di temanggung











Sabtu, 01 Agustus 2009, satu minggu sebelum terjadi penyergapan sarang teroris di daerah Temanggung, Jawa Tengah, oleh Densus 88 Anti Teror.

Jam menunjukkan pukul 13.00, Temanggung meskipun saat itu siang hari tapi karena daerah pegunungan udara terasa dingin dan sejuk.

Aku akan segera kembali ke Semarang setelah satu minggu ada tugas dinas di daerah Temanggung dalam rangka promosi produk dari perusahaan farmasi tempatku bekerja.

Dengan posisi menungging dihadapanku, seorang wanita usia 29 tahun tingginya kurang lebih 160cm berat badan tidak lebih dari 45kg, dengan kancing baju terbuka dan BH warna merah membungkus payudaranya yang berukuran 32, mengenakan Boy Shorts juga warna merah membungkus pantatnya yang padat berisi menutup seluruh pinggul dan sebagian perut, terlihat pantatnya lebih menyenangkan, nyaman, dan berkesan sporty.

Wanita ini terkesan mengidentifikasikan dirinya yang easy going dan down to earth.

Pantatnya bergerak gerak mengikuti gerakan mulutnya yang tengah sibuk mengoral pen|s Aris temanku yang berada didepan wajahnya.

Sedangkan kedua tangannya sibuk memegang dua pen|s milik Wawan dan Andi yang berada disamping kanan dan kirinya.

Dengan perlahan aku perhatikan adegan ini dari belakang.

Tangan Aris mulai meraih kepala Siti, nama wanita tadi dengan maksud untuk menahan gerakan gerakan mulutnya yang serasa sangat nikmat mengulum pen|snya.

Sedangkan tangan Wawan dan Andi mulai sibuk mencari payudara Siti yang tergantung didadanya.

Dari belakang aku coba membantu melepas baju yang dipakai Siti dan dengan perlahan aku mengelus bagian punggungnya yang kini terpampang, mulai dari pangkal leher dengan perlahan tanganku menjalar ke bagian pundak, pangkal ketiak terus kebagian pinggang, sekitar 5 menit aku melakukan itu dan kini aku mulai meraih pengait BH yang dikenakan Siti dan dengan sekali tarik terlepas BH yang dipakainya dan kini pelan-pelan Bhnya aku lepaskan dari tangan Siti yang agak menghalangi saat kami berempat mulai menyaksikan tubuh Siti yang setengah telanjang.

Dan kesempatan ini tidak kami sia-siakan untuk menjamah payudara Siti yang kini tergantung bebas tanpa penutup dada tergantung bebas dengan posisi Siti yang kini merangkak dengan mulut bergantian mengulum 3 pen|s yang mengelilinginya, depan kanan dan kiri.

Sementara tangan Aris, Andi dan Wawan sibuk menggerayangi payudara Siti, tanganku dengan perlahan mulai menarik kebawah Boy Shorts yang dikenakan Siti, pelan tapi pasti Boy Shorts yang dikenakan Siti kini sudah setengah turun dan menutupi sebagaian pantatnya yang padat berisi.

Sementara aku biarkan dulu dalam keadaan seperti ini, tanganku ingin merasakan kelembutan pantat Siti, demikian juga tangan Andi dan Wawan yang bisa meraih pantat Siti, sementara tangan mereka berdua yang lain masih sibuk meremas remas payudara Siti.

Dan seperti sangat menikmati tangan- tangan kami, Siti sesekali merintih kenikmatan.

Puas dengan itu, aku lagi menurunkan Boy Shorts yang tadi masih setengah tiang di pantat Siti, perlahan kini Boy Shorts itu turun dikakinya dan dengan tarikan lembut kini Boy Shorts itu sudah terlepas dari kaki Siti.

Dan sekarang dia dengan merangkak dan tubuh telanjang dikelilingi kami berempat yang sudah dengan pen|s tegak berdiri mengelilinginya.

Agar lebih jelas melihat apa yang tersembunyi di balik pangkal pahanya, tanganku dengan pelan melebarkan kaki Siti yang merangkak dan terlihat makin jelas belahan vag|nanya yang terselip tanpa rambut kemaluan tersembunyi diantara pahanya yang putih mulus.

Dan ini mengingatkannku kejadian lebih kurang 10 tahun lalu tepatnya dimalam tahun baru 1999, dimana waktu itu untuk pertama kalinya aku merasakan tubuh Siti yang digilir oleh 6 orang.

Dalam keadaan setengah mabuk saat itu Siti secara ramai-ramai kami telanjangi dan untuk pertama kalinya waktu itu aku melihat vag|na Siti juga tanpa rambut kemaluan yang sering dia cukur.

vag|na itu terlihat sangat mempesona tanpa rambut kemaluan dan lebih terlihat gempal berisi serta terlihat jelas belahannya.

Dan sekarang, vag|na Siti masih juga seperti yang dulu tanpa rambut kemaluan.

Untuk lebih jelas melihat belahannya, aku jongkok dan dengan 2 tangan aku meraih sela sela vag|na Siti, dengan jari-jariku aku coba menguak dan membelah vag|na Siti yang terasa mulai lembab oleh cairan yang keluar dari vag|nanya.

Aku coba meraih tas yang ada disebelahku, aku mencari sesuatu yang tersimpan didalam tas.

Akhirnya aku temukan, botol kecil dengan ukuran tidak lebih dari 30ml, berupa lotion.

Aku tuangkan diujung jariku dan secara perlahan aku usapkan di bibir vag|na Siti.

Seperti merasakan suatu benda yang sangat licin jariku mengusap bibir kenikmatan itu.

Dua tiga kali aku oleskan lagi lotion tadi dan semakin membuat vag|na Siti terasa basah dan terdengar Siti merintih-rintih menikmati usapan jariku.

Konsentrasinya mulai terpecah antara mengulum dan memegang pen|s ketiga temanku yang mengelilinginya dengan sesekali Siti menoleh kebelakang ingin mengetahui apa yang aku lakukan terhadap vag|nanya yang dia rasakan hangat dan semakin membuat vag|nanya semakin basah dengan cairan yang keluar.

Siti semakin mengerang dan merintih.

Kami berempat masih mengelilingi tubuh Siti yang telanjang di ruang tengah rumahnya.

Kami berempat masih mengenakan pakaian lengkap hanya pen|s kami yang sudah kami keluarkan untuk dinikmati oleh Siti.

Rumah di daerah pedesaan dan berada jauh antar tetangga, membuat kami leluasa hari itu untuk menikmati tubuh Siti seorang anak Kepala Desa yang juga seorang guru ngaji di madrasah di desa itu, yang secara kebetulan bertemu saat kami melakukan promosi di instansi pemerintahan tempat dia bekerja saat ini.

Pertemuan yang sudah cukup lama lebih dari 10 tahun.

Dan sempat ragu saat awal melihatnya.

Tapi setelah beberapa hari bertemu dan berbicara akhirnya apa yang terjadi lebih dari 10 tahun lalu kini terulang lagi.

Hanya sekarang Siti mau melakukannya secara sadar, sudah lebih dari 6 bulan dia ditinggal sendiri dirumah ke Irian oleh suaminya yang bekerja sebagai seorang arsitek pada salah satu perusahaan kontaktor.

Udara semakin terasa dingin bagi kami karena Semarang tempat kota kami berempat adalah kota dengan cuaca yang panas.

Kami berempat masih menggerayangi tubuh Siti yang merangkak dalam keadaan telanjang bulat dan kami sengaja tidak ingin buru-buru, kami berempat ingin puas dulu menjamah tubuh telanjang Siti dan ingin menyaksikan Siti puas tanpa terlebih dulu merasakan pen|s kami.

Jari jari kami secara bergantian mengusap dan memasuki lubang vag|na Siti yang mulai basah, dengan perlahan dan sesekali terdengar Siti menahan suaranya ketika jari jari kami memasuki lubang vag|nanya dan dengan perlahan juga jari kami keluar masuk dalam lubang yang basah itu.

Sesekali masing-masing satu jari kami secara bersamaan masuk kedalam lubang vag|na Siti yang membuat Siti memiawik pelan.

Dan disaat jari kami sendiri didalam lubang vag|nanya, kami manfaatkan untuk mengorek dinding dalam vag|na Siti, seperti mencari dan ingin menyentuh seluruh dinding dalam vag|na itu.

Jari kami pun mulai basah dengan cairan yang keluar dari vag|na Siti.

Cairan dengan bau yang sangat khas dari sebuah vag|na seorang wanita yang terangsang.

Kini kami berempat menghadapkan Siti kearah pandangan diluar rumah dan masih dalam posisi merangkak sedangkan kami berempat berada dibelakangnya.

Terlihat sangat indah pemandangan diluar dengan hamparan sawah dengan tanaman padi yang mulai berisi serta ditambah dengan pemandangan seorang wanita telanjang dihadapan kami yang dengan posisi merangkak, pantat padat berisi dengan kulit kuning mulus serta belahan vag|na tanpa rambut kemaluan di sela kakinya yang merah merekah.

Wawan berjalan mengambil tasnya dan mengeluarkan sesuatu dari dalam, sebuah kondom silikon berduri mutiara warna putih berukuran panjang kurang lebih 15cm dengan tebal kurang lebih 0,5 cm.

Sambil meraih sebuah pisang yang disajikan Siti untuk menjamu kami di meja tamu Wawan memasangkan kondom silikon berduri mutiara tadi.

Dengan perlahan kondom duri mutiara tadi kami sentuhkan kedinding luar vag|na Siti yang sudah basah kuyup oleh cairan, terlihat raut wajah Siti yang meringis menahan rasa geli karena kondom duri mutiara tadi menggelitik dinding vag|nanya.

Dan suara Siti semakin mengerang menahan kenikmatan ketika pisang yang terbungkus kondom duri mutiara tadi secara perlahan kami masukkan kedalam vag|nanya.

Dengan gerakkan keluar masuk dan memutar didalam vag|nanya, kami berempat melihat dan mendengar Siti mengerang kenikmatan.

Akhirnya Siti kami papah untuk coba berdiri.

Andi berada dibelakang Siti sedangkan Wawan dan Aris berada dikanan kiri, tangan tangan mereka bertiga pun sibuk meremas payudara dan merayap disemua bagian tubuh Siti yang telanjang.

Aku berjongkok didepan selakangan Siti yang terbuka lebar dengan kaki mengangkang.

Perlahan aku masukkan lagi pisang terbungkus kondom berduri mutiara tadi.

Dalam posisi berdiri telanjang bulat kini Siti merasakan bagaimana tubuhnya dijadikan pemuas fantasi kami berempat dengan menggunakan pisang yang tadinya dia suguhkan untuk kami yang bertamu ke rumahnya.

Dan dengan keadaan seperti itu secara bergantian kami berganti posisi untuk membuat Siti terangsang.

Sesekali kami mempermainkan putting payudara Siti yang kecil dan mengulum serta menggigitnya secara bergantian.

Erangan Sitipun semakin bertambah liar dan seperti tidak tertahan lagi, sesekali Siti mengejangkan kakinya karena vag|nanya menyemburkan cairan kenikmatan dan sesekali tubuh Siti merosot tidak kuat menahan tubuhnya yang lemas.

Tapi kami tetap mempertahankan Siti dalam posisi berdiri.

Hal itu terus kami lakukan sampai berkali kali Siti berteriak kepayahan menahan rangsangan yang luar biasa dia rasakan.

Akhirnya Siti kami dudukkan di sofa dengan posisi kaki tetap mengangkang dan terlihat vag|nanya semakin memerah dan semakin basah tampak wajah kelelahan tapi seperti tidak ingin menyudahi apa yang sudah dirasakannya.

vag|na Siti semakin terbuka dan terlihat jelas klitoris yang sudah mulai tersembul keluar diantara bibir vag|nanya.

Klitoris yang ingin disentuh untuk dirangsang.

Kami berempat pun tidak menyiakan kesempatan yang juga diinginkan Siti.

Klitoris itu ramai ramai kami sentuh, dengan jari, dengan mulut kami, dengan bibir kami secara bergantian.

Lidah kami pun meluncur bergantian kedalam vag|na Siti.

Bau khas yang keluar dari dalam vag|na Siti makin terasa.

Disaat salah satu dari kami merangsang vag|na Siti, yang lain menghisap payudara Siti dan melumat bibir Siti.

Hal itu semakin membuat Siti kepayahan melayani fantasi kami berempat.

Kami senang melihat Siti dalam keadaan seperti itu.

Tapi Siti tidak ingin menyerah.

Dia ingin terus merasakan rangsangan dan kepuasan.

Dan sekarang gantian Andi mengeluarkan pen|s silikon dengan panjang 25 cm, diameter 11 cm dan memakai 4 buah baterai AA yg bisa bergetar dan berputar yang memiliki 3 cabang, bagian atas berfungsi untuk menstimulasi klitoris atau bagian luar luar vag|na Siti, bagian tengah untuk stimulasi vag|na atau g-spot Siti dan bagian bawah vibrator untuk stimulasi anus Siti atau anal.

pen|s silikon tadi getaran dan putaran bisa disesuaikan dengan remote.

Kami lihat vag|na Siti telah semakin terbuka dan pelan-pelan kami masukkan kepala pen|s silikon tadi yang mulai berputar-putar di mulut vag|na Siti.

Mata Siti terpejam dan bibir yang tergigit menahan rasa geli.

Karena vag|na Siti sudah basah maka dengan mudah pen|s silikon tadi menembus masuk lubang vag|nanya hingga pangkal pen|s silikon dimana terdapat dua cabang untuk merangsang klitoris dan anusnya.

Gerakkan pen|s silikon tadi semakin kami percepat hingga batas maksimal.

Sambil kami tarik keluar masuk didalam vag|na Siti.

Hal ini semakin membuat Siti berteriak teriak tidak karuan menahan rasa geli yang luar biasa pada vag|nanya.

Lama kami mempermainkan vag|na Siti dengan pen|s silikon sesekali Siti diposisikan menungging, sesekali kami papah Siti untuk berdiri, sesekali kami papah Siti sambil berjalan dengan pen|s silikon yang tertancap dalam vag|nanya.

Kami pindah-pindahkan Siti diberbagai sudut tempat dalam rumahnya.

Terkadang kami posisikan di berdiri dengan kaki mengangkang dan tangan berpegangan pada rangka pintu kamar tidurnya, pada pintu kamar mandi, pada pintu dapur.

Sesekali Siti kami suruh melihat keluar dari jendela kamar, jendela dapur dengan tetap kami tancapkan pen|s silikon di vag|nanya.

Kadang kaki Siti, kami angkat satu seperti seekor anjing yang sedang kencing dan pen|s silikon tadi terus kami gerak-gerakkan dan vag|nanya.

Semua posisi dan tempat kami coba untuk merangsang vag|na Siti dengan pen|s silikon.

Dan dalam keadaan seperti itu tangan kami tidak berhenti merayap diseluruh bagian tubuh Siti.

Terlihat kulit Siti yang mulus memerah karena remasan dan cubitan tangan dan jari kami.

Pada suatu saat dimana Siti dalam posisi berdiri di pintu kamarnya dan sedang merasakan pen|s silikon yang kami masukkan kedalam vag|nanya, tiba-tiba terdengar HP miliknya yang terletak diatas meja riasnya berbunyi, tanda ada panggilan.

Setengah terkejut Siti coba mengambil HP tadi tapi kami tahan dan Andi berinisitai untuk mengambilkan.

Terlihat dilayar HP muncul tulisan “PAPA”, tanda suaminya menghubungi.

Tampak raut bingung Siti, tapi kami menyarankan untuk tetap diterima tapi kami tidak menghentikan rangsangan menggunakan pen|s silikon pada vag|na Siti.

Dan dengan ragu Siti menerima panggilan dari suaminya.

Siti berusaha berbicara dengan nada suara seperti biasa sambil menahan rasa geli kenikmatan di bagian vag|nanya.

Kami terus saja menjamah tubuh Siti yang telanjang.

Dan Siti berusaha bersuara seperti tidak terjadi apa apa pada dirinya.

Terdengar diujung sana suaminya menanyakan keadaan dan sedang apa sekarang.

Dijawab Siti “baik dan sedang sendiri”.

Pembicaraan yang berlangsung tidak lebih dari 3 menit itu berakhir dengan kabar bahwa suaminya akan pulang setelah tanggal 17 Agustus 2009.

Setelah terdengar suara “sun sayang dan hati-hati dirumah” panggilan itupun ditutup dengan sebelumnya saling kecup diujung HP.

Kami meneruskan menggarap tubuh telanjang Siti.

Setiap kami pindahkan Siti kebagian lain dari rumahnya, pen|s silikon tetap tertancap dalam vag|nanya sambil terus kami gerak-gerakkan.

Lama-lama Siti semakin tidak kuat dan lemas, tubuhnya melorot meski sudah kami tahan utnuk tetap berdiri.

Akhirnya tubuh telanjang Siti, kami angkat keatas meja makan.

Kami berempat mengelilinginya.

Karena Siti kehausan, Aris mengambilkan segelas air putih yang sengaja diberi obat perangsang berbentuk cairan dan dicampurkan dalam air.

Obat perangsang yang sengaja kami maksudkan untuk meningkatkan gairah seks atau libido Siti.

Obat perangsang yang tidak berbau, tidak memiliki rasa dan warna sehingga Siti tidak menyadari ketika kami beri minuman yang sudah diberi obat perangsang tadi.

Air dalam gelas tadi lamngsung diminum habis tanpa sisa oleh Siti yang memang kehausan.

Dengan tubuh terlentang tak berdaya dan seperti pasrah tangan dan kaki Siti terkulai lemas dipinggir bibir meja makan rumahnya.

Dengan nafas yang tak teratur karena kecapaian.

Tapi kami berempat tidak menghentikan aksi kami menjamah tubuh telanjang Siti yang terlentang diatas meja.

Dengan memperlebar rentang kaki Siti terlihat dia seperti pasrah mau diperlakukan seperti apa, sekali lagi aku oleskan lotion perangsang ke vag|na Siti.

Dan obat perangsang yang telah diminumnya mulai bekerja ketika vag|na yang telah basah dengan lotion dan cairan yang keluar dari vaginyanya secara bergantian kami masukkan pisang yang terbungkus kondom berduri mutiara dan pen|s silikon kedalam vag|na Siti.

Berempat kami memegangi tubuh Siti yang berulang kali mengejang mengeluarkan cairan kenikmatan dari vag|nanya.

Kami lihat jam menunjukkan pukul 3 sore.

Kami masih menyalurkan fantasi kami menyaksikan tubuh telanjang Siti yang berwajah mirip dengan host Yuanita Christiani, mengerang erang menahan kenikmatan karena rangsangan.

Dan kami masih belum ingin menggunakan pen|s kami masing-masing.

Akhirnya karena kelelahan Siti tertidur diatas meja makan.

Dan kesempatan ini tidak kami sia-siakan untuk mengabadikan tubuh telanjangnya dengan kamera digital ataupun kamera HP yang kami bawa.

Seluruh bagian tubuh Siti, kami potret close up tanpa bagian yang tertinggal.

Dan kami coba sepakat untuk menyimpannya secara rahasia.

Sambil menunggu tubuh Siti yang terlentang telanjang bulat diatas meja makan, kami sesekali duduk duduk di ruang tamu.

Hampir setengah jam kemudian Siti bangun.

Dan dengan masih telanjang bulat dia menemui kami di ruang tamu.

Sambil bersikap seperti menerima tamu dengan berpakaian lengkap meskipun saat itu dia tidak mengenakan sehelai benangpun yang menutup tubuhnya, Siti menemui dan berbincang dengan kami diruang tamu.

Dan dengan bergantian kami memeluk dan memangku Siti sambil terus membuatnya terangsang.

Sesekali kami menggunakan jari dan tangan kami merangsang vag|nanya dan meremas payudaranya yang semakin memerah karena remasan.

Sesekali kami gunakan kondom berduri mutiara dan pen|s silikon.

Kami senang ketika Siti mengerang-erang menahan rasa nikmat.

Siti juga kami suruh untuk bermartubasi didepan kami memakai tangannya sendiri atau menggunakan kondom berduri mutiara atau pen|s silikon.

Berkali-kali Siti mencapai puncak kenikmatan.

Dan berkali-kali cairan keluar dari dalam vag|nanya.

Akhirnya kami sepakat untuk menikmati tubuh Siti menggunakan pen|s kami masing-masing.

Dengan peraturan, Siti harus melayaninya dimana tempat yang kami kehendaki.

Mendapat giliran pertama adalah aku yang ingin dilayani dipintu masuk kamar tidurnya dimana ditempat itu biasanya Siti dan suaminya melakukan hubungan badan.

Disini aku tidak perlu menjelaskan bagaimana kami menikmati vag|na Siti karena aku yakin pembaca paham dan tahu bagaimana ketika pen|s bertemu dengan vag|na.

Setelah aku, giliran Wawan berikutnya yang minta dilayani Siti di dapurnya dengan fantasi ketika Siti sedang memasak.

Dan dengan keadaan seperti sedang memasak Siti pun melayani Wawan.

Lengkap sambil Siti menggoreng telur untuk makan kami nanti.

Setelah Wawan dilanjutkan Aris yang minta dilayani diatas sepeda motor Mio milik Siti.

Kemudian terakhir adalah Andi yang minta dilayani tubuh telanjang Siti diruang tamu sambil ditonton kami bertiga.

Berbagai gaya dan posisi harus dilakukan oleh Siti ketika melayani kami.

Kejadian ini berkahir menjelang pukul 6 sore ketika keadaan diluar mulai gelap dan udara semakin tersa dingin menusuk tulang.

Dan untuk terakhir kalinya, Siti melayani kami secara bersamaan.

Dimulai dengan posisi tidur terlentang dan kaki yang terbuka lebar, secara bergantian dan gerak cepat tanpa henti, kami memompakan pen|s kami kedalam vag|na Siti.

Tiap-tiap pen|s kami pompakan selama tidak lebih dari satu menit dan langsung dilanjutkan denganpen|s yang lain dan ini membuat Siti memiawik menahan ketika dengan cepat empat pen|s secara bergantian dan cepat keluar masuk dalam vag|nanya.

Setelah terlentang, Siti diposisikan doggy style dan kami masih melakukan hal yang sama.

Dan kami coba posisi posisi yang lain juga.

Dan setiap Siti mencapai puncak dengan teriakan agar kami menghentikan dulu gempuran pen|s kami, kami tetap terus melancarkan serangan pen|s kami hingga Siti kewalahan.

Hal itu kami lakukan terus tanpa henti hingga setengah jam.

Entah berapa kali cairan puncak kenikmatan sudah keluar dari vag|na Siti dan membasahi vag|nanya.

Semua berakhir ketika kami secara bergantian mengeluarkan sperma dan memuncratkannya disekujur tubuh dan muka serta mulut Siti.

Semua berakhir dengan rasa capai yang luar biasa.

Lebih-lebih Siti yang sudah tidak kuasa lagi untuk bergerak.

Dan terlentang lunglai di lantai ruang tamu.

Satu minggu kemudian terjadi penyerbuan Densus 88 kesarang teroris di Temanggung, disebuah desa yang berjalan sekitar 5 km dari desa tempat tinggal Siti.

Penyerbuan Siti berlanjut dengan penyerbuan teroris.
__________________

ONANI


Saya punya kebiasaan onani saya seperti cowok teman-teman saya. Tapi sebagai perangsang, saya gak hanya memakai buku atau film BF tapi juga orang. Soalnya saudara saya banyak yang cewek plus cakep-cakep masih SMP, body`nya jadi. Karena rumah saya yang besar, saudara saya (terutama yang cewek) sering menginap, nah waktu itu yang saya suka. Biasanya malam-malam saya naik ke kamar tamu, dan mengendap-ngendap. Saya naik ke atas ranjang dan mulai aksi saya dengan pegang-pegang body saudara saya sambil ngocok. gak jarang saudara saya tidur nyenyak banget sehingga saya bisa ngobel-ngobel vag|nanya.

Nah, kebetulan minggu lalu pas libur Sidang Umum saudara saya menginap. Ada satu saudara perempuan saya yang asli cantik namanya Joyce. Saya kepingin benar ngobel vag|nanya tapi gak dapat, soalnya dia baru kepegang paha saja sudah sadar. Tapi ini malam lain, saya memulai petualangan saya lagi. saya naik ke kamar atas, terlihat si Joyce tidur dengan posisi nafsuin. Menghadap ke atas (telentang) kaki rada mengangkang. Darah saya sudah berdesir saja. Saya mulai naik ke atas ranjang, ternyata dia memakai celana longgar. perlahan-lahan saya mulai tarik celananya kebawah dan mengintip ke dalam. Kelihatan CD-nya. Saya sudah mau masukan tangan saja. Tapi saya takut dia bangun. Tapi, lama-lama saya gak tahan juga. Saya masukin tangan saya, wah dia diam saja. Saya masuk lebih dalam lagi. Nyentuh CD-nya, saya mulai mau tarik CD-nya. Tangan saya satu lagi ngocok² pen|s saya. Tahu² dia bangun dan melihat saya lagi pegang pen|s saya. Wah, saya kaget dan buru² kabur sambil berharap dia melupakan dan dikira mimpi. Saya mau tidur lagi,"Sialan", dalam hati saya. Saya belum klimaks nih. Akhirnya saya tidur juga. Eh, malamnya saya merasa ada yang memegang tubuh saya. Saya bangun, ternyata si Joyce lagi memegang pen|s saya sambil tangannya masuk ke dalam CD-nya. Astaga, dia kaget juga, tapi terus berbicara. "Dengan ini kita seri ya?" terus dia mau pergi. Menyadari gelagat asyik ini saya langsung berkata, "Eh jangan pergi."
Terus dia bertanya "Emang kenapa, Loe marah?"
"Gak kok, loe demen pegangin barang gua, gua kepengen liat barang loe gimana kalau kita tukeran ?"
Dia diam sebentar terus bicara, "Yang benar?"
"Iya",
"Ya sudah dech, tapi loe duluan ya?"
Terus saya pun tarik celana saya yang longgar (maklum piyama) dan terlihatlah pen|s saya yg asli tegang (pen|s saya 12cm dan diameter 4cm). Lumayan buat anak 16 tahun. Dia kelihatan senang ditambah horny.
"Boleh gue pegang?"
"Loe mau apain juga boleh asal jangan disakitin."
Tangannya bergerak perlahan gemeteran, dia pegang pen|s saya. Darah saya berdesir waktu tangannya menyentuh pen|s saya. Baru sekali pen|s saya dipegang, dielus sama perempuan. Tangan yang satunya memegang celananya sendiri sambil sesekali menggesek. Saya lihat tambah horny.
"Eh, Joyce cukup donk, giliran lu."
"Gak ah malu",
"Eh, loe sudah janji, lagian cuma kita berdua kok."
"Ya sudah."
Dia pun mulai memegang celananya.
"Eh, tunggu, boleh gak saya yang buka?"
Dia berpikir terus bilang, "Boleh dech".

Tangan saya mulai memegang celananya. Terus saya gesek bagian vag|nanya dia diam saja. Terus perlahan² saya tarik celananya turun, kelihatan CD-nya putih. Terlihat bagian vag|na agak basah, perlahan dari samping saya tarik CD-nya. Tangan saya gemetar. Dia juga terlihat agak malu. Saya tarik ke samping, terlihat vag|nanya, bulu kemaluannya paling baru 5 lembar (maklum baru 13). Saya buka sedikit, bau amis campur pesing mulai menyebar.
"Boleh saya elus ?"
"Boleh",
Saya mulai mengelus vag|nanya, pas saya buka sedikit, kelihatan ada daging kecil dibagian atas, saya heran.
"Ahh, nikmat Di! Lagi donk",
Tiba² dia teriak, saya kaget. Terus saya dapet ide,
"Gimana kalau vag|na lu gue gesek pakai pen|s gue?"
"Hah, jangan saya masih mau perawan",
"Tenang cuma luarnya doang gue jamin perawan lu gak hilang",
"Benar?"
"Benar."
"Ya sudah."
Terus CD-nya saya tarik kebawah dan CD saya saya turuni sendiri. Saya suruh dia tiduran, terus saya letakan pen|s saya diatas vag|nanya (waktu itu saya sudah takut ketahuan bokap) terus saya gesek naik turun.
"Ahh nikmat DI, nikmat banget cepetan dikit Di."
Wah saya semakin nafsu saja saya gesek lagi, sementara vag|nanya semakin banjir.
"Ahh terus Di, clit gua donk diutamain",
"Hah, apaan tuh clit?"
"Itu daging kecil yang tadi loe pegang",
"Oohh."
Terus saya mulai mencari "clit" tersebut dan saya gesek pakai kepala pen|s saya.
"Ahh nikmat Di terus Di."
Saya semakin nafsu saja, terus dia bercanda bicara begini,
"Ahh, uhh, ini mah dimasukin lebih nikmat kali ya?"
Saya yang nafsu senang benar dengar begitu. Saya ambil koran terus saya alaskan pantatnya.
"Ngapain Di?"
Saya diam saja terus saya pelan² cari lubang vag|nanya dan saya sodok masuk pen|s saya.
"Ahh, jangan Di, adduuh sakit Di, please jangan ahh! "Saya kasihan juga saya tarik sedikit. Terus saya sodok sekuat tenaga"Ahh sakit banget Di, aduhh.." Saya cuek terus saya sodok sedikit. Sambil memegang payudaranya saya bisa melihat dia menangis. Tapi saya cuek, saya kayuh saja terus.
"Ahh Di sakit Di, loe tega loe Di, pokoknya perawan gue lu yang ambil." Tapi lama² dia diam juga, dia malah mulai menikmati.
"Ahh, Ahh, ohh, terus nikmat juga, teruss."

Mungkin karena sama² baru, gak lebih dari 15 menit kita sama² klimaks, saya keluarkan sperma saya didalam, asli nikmat banget. Setelah selesai, kita duduk senderan, koran tatakan tadi ada noda darah, darah perawan dia. Saya lihat dia menangis sambil menyandarkan kepalanya ke dada saya.
"Ah, Di, loe ngambil perawan gue, gue nyesel, tapi nikmat kok, gue tapi gak ngarep lo mau tanggung jawab, asal lo mau begini terus sama gue, lagian gue juga kok yang mulai."
"Gak, apapun yang terjadi saya tanggung, setelah cukup umur lo bakal gue nikahin apapun resikonya."
"Benar?"
"Suer!"
"Asyikk, loe baik deh, lain kali gue mau lagi deh."